BPR harus siap hadapi persaingan

Oleh Donald Banjarnahor

JAKARTA: Asosiasi Bank Perkreditan Rakyat meminta kepada anggotanya untuk menyiapkan diri dalam menghadapi persaingan dengan lembaga keuangan lain. Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto mengatakan secara prinsip persaingan bisnis antara BPR dengan lembaga keuangan mikro maupun bank umum tidak bisa dihindarkan.

Hal tersebut, lanjutnya, terlihat dengan makin bertambahnya lembaga keuangan mikro non BPR dan makin jauhnya penetrasi bank umum pada wilayah terkecil, seperti kecamatan dan desa yang selama ini menjadi pasar BPR.

“Untuk itu asosiasi selalu menekankan kepada BPR untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi persaingan yang pasti terjadi,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.

Dia menjelaskan persiapan yang harus dilakukan adalah pengembangan sumber daya manusia dalam rangka penguatan pengelolaan dari perusahaan. Menurut dia banyak BPR yang terjerumus dalam kondisi kurang sehat maupun tidak sehat karena memiliki kelemahan dalam manajerial perusahaan.

Selain itu, lanjutnya, BPR juga harus inovatif dalam produk maupun pemasaran terutama dalam penghimpunan dana serta penyaluran kredit. Selanjutnya, efisiensi dalam pengelolaan usaha juga harus dilakukan. Menurut Joko selain kesiapan dari BPR, Bank Indonesia (BI) juga harus mendukung dengan membuat kebijakan yang berpihak terhadap persaingan yang sehat terutama antara bank umum dan BPR.

“Jadi kebijakan yang dibuat harus mendorong sinergi antara BPR dan bank umum. Salah satunya adalah memperkuat kredit dengan skema linkage,”jelasnya.

Linkage merupakan penyaluran kredit mikro oleh bank umum kepada masyarakat melalui lembaga keuangan yang lebih kecil seperti BPR atau koperasi. Hingga April 2011 pembiayaan linkage lewat BPR mencapai Rp5 triliun atau sekitar 13,88% dari outstanding seluruh kredit yang disalurkan bank mikro.

Sebelumnya Direktur Kredit, BPR dan UMKM BI Edy Setiadi mengatakan faktor eksternal yakni persaingan dengan lembaga keuangan mikro dan bank umum menjadi salah satu penyebab BPR memiliki kondisi kurang sehat dan tidak sehat.

“Selain itu ada faktor internal seperti kurang kompetennya sumber daya manusia dan tata kelola yang baik,” ujarnya beberapa waktu lalu. Dia menyatakan sebanyak 8,25% dari seluruh BPR yang beroperasi saat ini memiliki status kurang sehat dan tidak sehat.

Apabila dibandingkan dengan jumlah BPR yang beroperasi pada april 2011 yang mencapai 1.680 buah, jumlah BPR yang sakit sedikitnya 138 perusahaan. BPR yang masuk dalam pengawasan khusus adalah BPR yang memiliki rasio kewajiban penyediaan modal minimum kurang dari 4% dan rerata cash ratio selama 6 bulan terakhir kurang dari 3%. BPR yang masuk dalam pengawasan khusus harus melakukan perbaikan maksimal 6 bulan. (mmh)
AddThis Social Bookmark Button

About FORUM BPR
IT Bank Perkreditan Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: